Showing posts with label travelling. Show all posts
Showing posts with label travelling. Show all posts

Tuesday, May 24, 2016

Japan Trip Tokyo : Ginza, Shibuya, Shinjuku

Hari ke lima...

Setelah beres-beres barang, kita langsung menuju Kyoto Station untuk naik Shinkansen ke Tokyo. FYI, gw dah beli tiket shinkansennya dari H-1 supaya dapet tempat duduk. Takutnya kehabisan tiket. Kita naik kereta Nozomi, yaitu kereta yang paling cepat sampenya di Tokyo. Sebenarnya ada kereta jenis lain, cuma karena harganya mirip jadi gw milih Nozomi aja. Harga tiket shinkansen ini cukup mahal 13.910 yen per orangnya. Kalo dirupiahin mungkin sekitar 1,6 jutaan. Cuma karena memang satu-satunya transportasi dari Kansai menuju Tokyo yang paling efektif adalah shinkansen, jadilah kita beli tiket ini. Waktu tempuh dari Kyoto ke Tokyo sekitar 4 jam dan ada beberapa perhentian. Cuma perhentiannya sendiri gak terlalu lama dan gak pake delay-delay. Nah, sistem shinkansen ini seperti pesawat dimana sudah ada nomor gerbong dan tempat duduk. So kita gak bisa milih mau duduk dimana.
Shinkansen Ticket

Shinkansen

On Our Way to Tokyo



Pokoknya gw sih saranin banget buat yang memang ada budget untuk naik shinkansen sebaiknya nyobain karena kereta cepat ini bener-bener menarik. Walaupun cepat tapi sama sekali gak ada goncangan. Dan di kereta ini pun ada toilet yang bersih dan ada penjual makanan.

Nah, sesampainya di Tokyo, kita langsung naik kereta lagi menuju ke area Shinjuku. Tapi sebelum kita ke Shinjuku, gw beli kartu PASMO untuk perjalanan selama di Tokyo. Sedangkan kartu ICOCA sudah gw refund di Kyoto Station sebelum berangkat. Di Tokyo ini jalur kereta dan busnya lebih ribet sehingga ada baiknya untuk benar-benar memperhatikan maps ato tanya sama petugas disana apakah PASMO bisa dipake di kereta yang akan dinaiki.

PASMO Card

Kita menuju ke AirBnB Apartment kita yang ada di dekat stasiun Akebonobashi. Daerah ini menyenangkan karena banyak minimarket dan ada Sukiya dan Wendys juga. Ya setelah drama AirBnB di Osaka, akhirnya ada jalan keluar juga.

AirBnB at Tokyo




Photo Credit : AirBnB

Setelah taro koper, kita menuju ke Ginza karena udah sore juga jadi kita mutusin untuk jalan-jalan di daerah yang gak terlalu besar. Ginza sendiri merupakan daerah mahal. Disana ada toko Muji, Loft, dan ada Sanrio Store yang gede juga. Disana si mami langsung berkeliling Muji karena emang itu toko kesukaan dia. Setelah itu kita juga ke Fujiya Cake yang terkenal dengan maskot pekochan dan beli strawberry cheese cake.

Ginza


Fujiya Cake


Besok harinya kita langsung menuju ke Shibuya yang terkenal karena crossing streetnya yang super rame itu dan ada patung Hachiko juga disana. Di Shibuya ini ada shopping center yang terkenal banget namanya 109. Tipe-tipenya sih sebenernya kayak Mangdu gitu. Cuma ini versi jepangnya. Heheheheh..

Hachiko Statue

Kita juga beli sushi untuk sarapan di pinggir jalan. Sushi disini bener-bener fresh dan gw yang gak suka sashimi pun berani makan sashimi disini. 1 paketnya hanya sekitar 80 ribu! Hampir sama kayak yang dijual di AEON Mall.


Street Sushi Shop 

Makan siangnya kita akhirnya makan Hokkaido Ramen di daerah Shibuya. Nah, di Hokkaido Ramen ini pertama kalinya gw nyobain pesen makanan menggunakan mesin. Tapi kan karena dasar kamseupay nihhh.. Awalnya bingung pake mesinnya apalagi tulisannya Jepang semua. Untung ada orang yang ngantri dibelakang kita dan dia ternyata bisa bahasa inggris. Akhirnya gw suruh dia untuk order dulu dan gw ikutin caranya. Hahahaha..

Mesin Food Order di Jepang


Hari terakhir kita di Jepang, kita menuju ke Shinjuku untuk nyobain the famous ramen ICHIRAN. So setelah taro koper di koin locker yang ada di Shinjuku Station. Kita langsung cuss jalan ke Ichiran. Cuma karena jaraknya cukup jauh dari stasiun sebenernya daddy mami udah mau nyerah aja dan makan apa aja yang terdekat. Tapi setelah diiming-imingi ini gak bakal rugi ke Ichiran, mereka akhirnya mau jalan sedikit lebih jauh. Dan akhirnya sampai juga kita di Ichiran. Beruntungnya kita, antriannya gak terlalu rame. Cuma ternyata semua yang makan harus ikut ngantri dan gak boleh diwakilkan 1 orang doank. Padahal ortu lagi enak-enakan duduk. Akhirnya mereka harus ikut ngantri deh. Nah di Ichiran sendiri walaupun ada waiting list, tapi pemesanan makanan juga pake mesin. Nah setelah kita pesan, kita masih harus ngantri lagi. Dan pas ngantri itu kita bisa isi form untuk custom ramen kia seperti di Ikkudo Ichi. So kita bisa nentuin minyaknya, rasanya, dan keempukan mie nya. Dan setelah giliran kita, kita akan masuk ke tempat makan. Dan inilah uniknya. Tempat makannya itu berbilik-bilik dan bukan meja. So mungkin emang sengaja dibikin kayak gitu supaya kita bener-bener menikmati ramennya. Jadi form yang sudah diisi dikasih ke mas-mas di dapur di depan kita. Dan setelah mas-masnya nyajiin ramennya, mereka akan tutup depan kita dengan tirai. So kita makannya ngadep tirai. Unik kannnn.. Dan ramennya pun enakkkk banget!!!! Adek pun nambah mie nya lagi saking enaknya.

Ichiran Ramen



Beruntungnya kita datang di waktu yang tepat soalnya setelah kita beres makan, ternyata antrian di luar udah mengular kemana-mana. Dari Ichiran, kita langsung balik ke Shinjuku Station dan naik kereta menuju ke Haneda Airport untuk balik ke Jakarta (hiks). Di Haneda Airport gw refund kartu PASMO gw dan check in. Oh ya, kita juga masih bisa belanja oleh-oleh di Duty Free yang ada di airport seperti Tokyo Banana dan Tokyo Milk Cheese.

Tokyo Banana


So demikianlah cerita perjalanan ke Jepang Vivin sekeluarga. Semoga info-infonya bisa membantu kalian yang akan travelling ke Jepang. Jika ada yang mau nanya, monggo silahkan langsung kontek gw yaaa.. See you!

Tuesday, May 10, 2016

Japan Trip Kyoto : Gion, Nishiki Market, Fushimi Inari, Arashiyama Bamboo Forest

Hari ketiga di Jepang kita pack up barang dan langsung menuju ke Shin-Osaka Station dengan gotong-gotong koper. So memang dari awal gw udah plan nginep di daerah Shin-Osaka karena untuk menuju ke Kyoto, kita harus lewat stasiun ini. Perjalanan dari Osaka ke Kyoto sendiri hanya 15 menit menggunakan train. Kyoto juga masih daerah Kansai so kita masih bisa pake ICOCA Card. 

Train Menuju Kyoto


Kyoto Station



Setelah sampai di Kyoto, kita langsung naik bus yang cara jalan dan nomornya udah dikasih tau sama owner apartement AirBnB nya. Ternyata apartemen ini agak jauh dari stasiun train jadi lebih baik naik bus. Nah, sampai disana, terjadi drama. Seperti biasa, perjalanan kalo gak ada dramanya pasti belum asik. Jadi ceritanya si owner udah ngasih tau bahwa kunci apartemennya akan ada di dalam kotak surat, dan setelah kita dapetin kunci di kota kotak surat, kunci itu akan bisa buka panel room di sebelah unit dimana kunci asli apartemen ada di panel room itu Dia sendiri udah ngasih lock code untuk buka kotak surat itu. Tapi ternyata setelah kita cek kotak suratnya gak ada kuncinya. Dan si owner gak bisa dihubungi. Oh nooo.. Akhirnya kita nepi dulu di McDonald's seberang apartement sembari nunggu ownernya bales chat gw. Tapi karena kelamaan, akhirnya gw dan dedek sok ide untuk masuk ke gedung apartemennya dan naik ke unit dan coba untuk langsung cek ke panel room. Dan ternyata jengg jenggg, panel room bisa dibuka dan ada kunci apartemennya disana. Akhirnya kita manggil daddy dan mami untuk langsung cuss ke apartemen.

AirBnB Apartment at Kyoto


Photo Credit : AirBnB

Setelah taro-taro barang, kita naik bus lagi. Dan drama selanjutnya dimulai. So niatnya gw sih mau balik ke Kyoto Station dan naik train menuju ke Gion District, tapi kita naik bus ke arah berlawanan. Wahhh gaswat kan. Tapi untungnya Bus ini malah melewati Nishiki Market yang memang gw rencanain untuk pergi setelah jalan-jalan di Gion. Akhirnya kita turun di Nishiki Market untuk jalan-jalan dan cari makan. Di Nishiki sendiri ada sanrio store. Dan akhirnya kita makan udon di salah satu restoran disana. Di Nishiki ini sendiri juga banyak menjual oleh-oleh dan souvenir khas Kyoto salah satunya mochi segitiga, kimono, bakiak, dan lainnya.

Kyoto Mochi

Sanrio Store at Nishiki


Cake Shop at Nishiki


Our Lunchie

Setelah jalan-jalan di Nishiki, kita langsung jalan kaki di Gion District. Gion District  ini ternyata tempat yang masih agak tradisional, dimana ada kali dan rumah-rumah tradisional. Katanya sih kalo beruntung kita bisa ketemu geisha tapi sayangnya kemarin kita gak ketemu sih.

Gion at Night

Gion District


Setelah dari Gion kita langsung pulang untuk istirahat untuk besoknya ke landmark yang lain.

Besok pagi menjelang siang, kita langsung menuju ke Fushimi Inari. Itu loh kuil yang terkenal dengan tiang-tiang orangenya itu. Yang happening banget. Untuk kesana, pertama kita naik bus ke Kyoto Station dulu, tenang kali ini gak pake nyasar. Nah dari Kyoto Station kita menuju ke Inari Station. Nah sebenarnya disini banyak banget tempat-tempat untuk nyewa kimono, cuma kayaknya ribet banget dan apalagi kan gw tour leadernya ye kan, jadi gak bisa deh gaya-gayaan pake kimono. 

Di Fushimi Inari sendiri rame banget nget nget. So kalo kalian liat ada foto yang sepi banget, cuma orang yang di foto dan tiang-tiangnya, itu hanyalah kebetulan semata or kalo kalian niat, kalian bisa jalan agak jauh ke dalam goa tiang itu. Karena tempat itu bener-bener rame dan impossible banget buat foto sendirian disana. Atau mungkin kalian bisa dateng agak pagian kesana sih kalo saran gw. Akhirnya gw foto di pinggiran tiangnya demi foto kekinian ala-ala

Fushimi Inari

Di daerah Inari ini juga banyak yang jualan street food kayak okonomiyaki dan yakisoba. Gw dan dedek nyobain juga sih sembari orang tua pada duduk-duduk di tempat peristirahatan. Tapi kita lupa foto makanannya saking ribetnya dan memang street food jadi tangan kita penuh dengan makanan-makanan itu.

Nah, setelah dari Fushimi Inari, kita langsung menuju ke Arashiyama Bamboo Forest yang kekinian itu. Naik train juga dan turun di Arashiyama Station. Disini sebenarnya kita bisa nyewa sepeda atau naik rickshaw yang ditarik abang-abang Jepang. Namun lagi-lagi dikarenakan ribetnya trip ini, kita jadinya gak bisa ala ala. Di Arashiyama suasananya adem banget dan sepi. Pokoknya serasa mendapatkan kembali inner peace. 
Arashiyama Bamboo Forest

Setelah dari Arashiyama kita langsung pulang untuk istirahat. Dinnernya apa? Kita akhirnya nyobain Yoshinoya Jepang! Yeayyy... Bedanya apa Yoshinoya disini sama di Jepang. Nah di Jepang ini ukuran bowl nya ada 6 ukuran dan tentu aja ada menu babi. Hahahaha.. So siap menuju Tokyo besok harinya.

Thursday, March 31, 2016

Do It Yourself : How to Apply Japan Visa

I'm back!

Ini postingan yang udah gw janjiin sebelumnya yaitu tentang visa Jepang. Kayaknya sebentar lagi gw bisa jadi calo visa sih saking seringnya nyobain apply visa sendiri. Lol..  Okeh jadi gw cerita dulu nih persiapan bikin visa Jepang. Karena gw perginya ber empat sama bokap, nyokap, dan adek gw, jadi persiapannya udah dari kapan tau soalnya rada ribet karena semua surat dan akte bokap adanya di Jambi. Means gw udah siapin dari sincia kemaren. Untuk formulir visa, form itinerary perjalanan, dan semua informasi tentang visa sebenarnya udah lengkap banget di webiste Kedutaan Besar Jepang. ( http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html ).

Jadi gw rangkum aja semua yang ada di website tersebut disini. Yang perlu disiapkan adalah :
1. Paspor asli
2. Formulir aplikasi visa (bisa di download di website)
3. Pas foto 4,5 x 4,5 cm 1 lembar (ditempel di form aplikasi)
4. Fotokopi KTP
5. Fotokopi kartu mahasiswa (gw masukin kartu UPH gw juga)
6. Bukti pemesanan tiket (kalo gw tambahin bukti pemesanan akomodasi juga)
7. Jadwal perjalanan (form itinerary bisa di download di website juga)
8. Fotokopi dokumen hubungan keluarga (akte lahir, KK, surat nikah, surat ganti nama, dll)
9. Fotokopi bukti keuangan 3 bulan terakhir (gw juga menyertakan surat referensi dari bank)

Form aplikasi visa



Form Itinerary



Gak ribet kan persyaratannya?
Nah setelah gw siapin semua dokumennya, berangkatlah gw hari Selasa tanggal 15 Maret ke Embassy Japan yang ada di sebelah Plaza Indonesia. Karena jam apply visa dari jam 8.30 sampai jam 12.00, jadi gw jalan jam 7.30 supaya gak kena macet dan untungnya emang gak macet. Gw parkir di PI karena di daerah sana emang 3in1 kalo jam segituan lalu gw jalan kaki ke kantornya dan sampe tepat jam 8.30. Gw pikir gw udah jadi orang pertama yang sampe, tapi ternyata salah besar karena antreannya udah panjang banget. Sampe ada tenda dan kursi-kursi juga buat orang yang nunggu. Tapi akhirnya pada masuk juga pelan-pelan. Mungkin yang boleh masuk sedikit-sedikit biar gak membludak di dalam kantor. Pas masuk kita harus tukerin ID card sama visitor card lalu barang bawaan kita di scan. Setelah itu kita baru boleh masuk ke tempat pembuatan visa.

Antrean di depan kantor kedutaan




Di dalam ruangan, kita dikasih receipt tanda terima yang harus kita isi dulu nama dan nama paspor. receiptnya gunanya untuk ngambil paspor yang sudah ada visanya nanti. Tips pertama, bawalah bolpen. Nah, setelah itu kita ambil nomor antrian. Waktu itu gw dapet nomor 80 dan antrian yang dipanggil udah nomor 30an. Yang gw salut adalah walaupun gw selisih 50 nomor dari antrian pas gw dateng, tapi gw cuma nunggu 30 menitan. Salut sama kerja orang kedutaan Jepang deh.

Visitor card, Nomor antrian, dan Dokumen




Nah, akhirnya tiba giliran gw maju. Daannnn drama pun dimulai. Karena KTP gw, bokap, dan adek masih KTP Jambi, kita harus apply visa di konsulat Jepang di Medan. Nah ini yang gw gak ngerti karena menurut gw jarak Jambi - Jakarta itu lebih deket daripada jarak Jambi-Medan. Tapi Jambi masuk wilayah yuridiksi Medan. Yang bikin nyesek adalah Palembang dan Bengkulu yang jelas-jelas tetanggaan sama Jambi masuk wilayah yuridiksi Jakarta. Yah salah gw juga sih karena gw gak baca peraturan itu di webistenya. Hiks.. Akhirnya yang bisa gw urus cuma visa nyokap. Lumayan lah. Sedangkan punya gw, bokap, dan adek gw serahin sama travel agent. Gw sebenernya gak rela sih. Tapi daripada repot. Sebenernya sih kata orangnya gw bisa aja apply disini dengan syarat ngasih surat  yang ngejelasin gw mahasiswa aktif dari UPH, tapi karena gw udah males balik lagi jadi gw serahkan aja ke travel agent.


Wilayah Kantor Yuridiksi




Punya nyokap sendiri berjalan dengan lancar prosesnya dan cuma makan waktu 4 hari. Sebenernya kalo paspor kita udah e-passport malah cuma 2 hari pengerjaan visa waivernya dan gretong. Hiks. Yaudah mau gimana lagi kan.

Belum selesai drama KTP Jambi, muncul lagi drama berikutnya karena bokap gw lupa ngasih surat ganti nama karena akte lahir dan KTP nya beda nama. Biasa deh orang jaman dulu akte lahirnya masih pake nama Chinese gitu. Akhirnya bokap harus kirim surat ganti nama nya pake tiki dan gw harus scan dan email ke travel agent yang ngurusin visa gw.

Akhirnya setelah beberapa hari menunggu, tibalah hari jumat untuk ngambil visa nyokap yang udah jadi. Inget-inget bawa receipt tanda terima dan uang untuk bayar visanya. Harga visa Jepang untuk single entry adalah Rp 330.000,- . Keterangan selengkapnya bisa dilihat di website kedutaan Jepang.
Jadwal pengambilan visa dimulai jam 13.30 dan gw udah jalan dari rumah jam 12 siang. Tapi suek banget karena jalanan agak macet dan parkiran PI juga rame banget. Sampe di Kedutaan Jepang jam 13.20 dan antriannya parah banget lebih parah daripada antrian pas gw apply visa. Duh! Tapi ya sudahlah ya. Masa cuma karena antrean panjang terus gak jadi ngambil visa. Prosedurnya juga sama sih dengan apply visa. Antri, tukerin KTP, scan barang bawaan, ambil nomor antrian, dan tunggu sampe nomor antrian dipanggil.

Receipt pengambilan visa




Nah, gimana nasib visa gw, bokap, dan dedek? Setelah 1 minggu pembuatan akhirnya dikabarin sama agentnya kalo visa kita keluar juga walaupun sempet deg-degan dan ada sedikit drama karena dedek dapet visa waiver yang seharusnya buat pemegang e-passport padahal paspor dedek itu paspor biasa. Tapi karena kata agentnya itu gak masalah akhirnya ya udah deh. Finally visa jadi and we are ready for JAPAN!

Visa Jepang




Kantor Kedutaan Jepang :

Jalan MH Thamrin 24
Jakarta Pusat 10350


Monday, March 28, 2016

Hometown Trip : Jambi

Hai hai...

Liburan passover dan paskah kemarin gw baru aja pulang ke Jambi. Yang beda kali ini adalah karena gw bawa tamu dari Jakarta. Yaitu calon dan calon mertua gw.. Jadi malu ih.. Hohohoho... Sebenernya ini PR banget buat gw karena jarang banget gw bawa tamu. Kenapa? Bawa tamu means gw harus ajak mereka jalan-jalan. Yang bikin susah adalah karena gw gak tau mau ngajakin mereka kemana. Bukannya Jambi gak punya tempat wisata. Banyak banget sebenernya, tapi kalo mau wisata alam itu agak jauh. Misalnya Gunung Kerinci atau Air Terjun Segerincing. Kalo mau wisata budaya sih bisa aja ke Candi Muaro Jambi atau jalan-jalan ke Museum. Tapi gw yakin mereka gak tertarik sih. Hahahaha.. Lalu bisa aja sih gw ajakin ke "Ancol" nya Jambi yaitu tepi Sungai Batanghari di seberang rumah dinas gubernur sore-sore sambil makan jagung bakar dan minum es tebu. Tapi sekali lagi itu gak memungkinkan karena jadwal kita juga penuh untuk ketemuan sama keluarga gw yang lain. Lagipula kita cuma 3 hari di Jambi jadi emang gak bisa pergi ke banyak tempat. Akhirnya gw memutuskan untuk ngajak mereka wisata kuliner aja. Disclaimer dulu, kuliner yang kita pergi mengandung makanan tidak halal yaa.

1. Mie Pangsit
Hari kedua di Jambi pagi-pagi gw sama dedek ngajakin mereka makan mie pangsit babi yang ada di Talang Banjar. Nah, di daerah Talang Banjar ini banyak banget mie pangsit yang enak. Pilih aja salah satu. Tapi perlu dicatat, jangan cari mie pangsit medan atau ala ala daerah lain karena cita rasanya udah beda banget. Yang penting harus cari yang pure mie pangsit Jambi.

Mie Pangsit


2. Kwetiau dan Sate Turunan DKT
Kenapa namanya Turunan DKT? Karena lokasinya adalah di dekat penurunan setelah rumah sakit DKT. Hahahaha.. Maksa banget kan? Tapi beneran sampe sekarang kita gak ada tau nama tempat makan ini apa. Kalo akong gw dulu sih nyebutnya tempat ini "ia-kha" alias "dibawah pohon kelapa". Kenapa? karena di sebelah si tukang jualan kwetiau dulu ada pohon kelapa. Sekarang sih udah ilang tuh pohon kelapa. Hahahahaha..
Nah, di turunan DKT ini aceknya jualan kwetiau, lomie, dan bihun. Sebenernya gw juga pernah makan capcainya pake nasi. Tapi favorit disini tetap kwetiau siramnya. Yang jelas kwetiau di jambi beda banget sama di daerah lain. Selain itu disini juga jualan sate ayam dan sate babi dengan bumbu kacang. Kalo gw balik Jambi sih harus banget makan satenya walaupun entah kenapa setiap gw pulang perasaan harga satenya naik perlahan namun pasti. Lol..

Lo Mie Siram

Sate Babi




3. Pempek
Ini juga salah satu must eat di Jambi. Walaupun orang mah taunya pempek itu khas palembang tapi tetap aja di Jambi, makan pempek itu wajib hukumnya. Daerah yang banyak jualan pempek juga sama kayak mie pangsit yaitu di Talang Banjar. Di daerah ini ada Pempek Selamat, Pempek Sumsel, Pempek Asiong, Pempek Mega, dan masih banyak lagi. Favorit gw sih Pempek Sumsel, tapi kalo mau agak fancy sih bisa ke Pempek Selamat yang tempatnya full AC. Semuanya enak kog pempeknya. Selain itu kita juga bisa beli oleh-oleh kerupuk di tempat pempek. Jadi bisa makan sekalian beli oleh-oleh deh.

Pempek Selamat
Photo Credit : Pempek Selamat

4. Simpang Jelutung
Buat yang suka hunting makanan yang cuma ada di pagi hari dan cuma enak dimakan pagi-pagi wajib ke simpang Jelutung. Sebenernya sih namanya toko kopi Ahok, cuma kalo di Jambi orang taunya sih Simpang Jelutung. Gw inget banget dulu tempat ini tadinya rumah kayu gitu, tapi rame banget dan kalo pagi bikin macet. Tapi sekarang dia udah berubah jadi ruko 3 lantai dan kayaknya sih semakin banyak dagangannya.
Disini jualan nasi gemuk, mie celor, martabak india, soto, lontong sayur. Kalo mau pesen minum sih wajib banget pesen kopi susu. Oh ya disini juga ada telor setengah mateng yang super enak (jadi ngiler). Boleh banget kalo mau cari one stop breakfast place ya disini tempatnya.

Nasi Gemuk

Kopi Susu

Mie Celor


Martabak India


5. Aneka Rasa
Yang suka makanan Indonesia, kalo ke Jambi wajib makan disini. Tempatnya rada fancy dan sepertinya kalo pejabat dari Jakarta berkunjung ke Jambi mereka suka makan disini. Terbukti dari foto-foto pejabat dan Presiden yang dipajang di dinding restoran ini. Menu favorit gw sih karedok, gurame bakar, kangkung cah telor puyuh, puyunghai, dan ayam gorengnya. Aneka rasa ini juga bisa jadi tempat bikin acara karena tempatnya luas loh.

6. Nasi padang
Loh, kog nasi padang? Ini kan Jambi. Trust me, nasi padang di Jambi itu lebih padang daripada nasi padang di Jakarta. Hahahahaha... Gak tau ya, mungkin karena lidah gw yang terbiasa dengan nasi padang di Jambi, kadang-kadang gw ngerasa nasi padang di Jakarta itu kayak fake nasi padang. Tapi beneran nasi padang di Jambi lebih enak. Favorit gw sih nasi padang di Juwita Sari, Pusako, dan Alam Raya. Kenapa? Ya pokoknya enak aja deh. Kalo yang di Pusako sih yang bikin enak itu nasi putihnya karena sih katanya itu beras payo asli dari Kerinci yang cuma ada di Jambi. Yang mampir ke Jambi boleh dicoba yaa...

7. Dine & Chat dan Simon & Sons
Yang suka nongki cantik sore-sore bisa cobain ke Dine and Chat yang ada di Sipin di seberang Gramedia. DC ini adalah tempat nongkrong gaholnya anak Jambi selain Simon and Sons. Sebenernya dua tempat ini sih mirip-mirip. Disini menjual cake unyu unyu dan makanan berat. Liburan ini sih gw gak sempet mampir ke dua tempat ini tapi sebelum-sebelumnya udah sering banget. Harga makanan disini juga gak terjangkau dan rasanya enak.

Simon & Sons

D&C

Photo Credit : google

Green Tea Adzuki Cake


8. Swiss Cafe
Last but not least, bagi yang berkunjung ke Jambi. Boleh banget loh nginep di Swiss-Belhotel di Jambi. Hotel yang ada di daerah Sipin tepat di sebelah Gramedia. Baru akan buka besok loh. Kenapa gw bisa nyobain duluan? Karena hotel ini punya keluarga gw. Hahahaha.. Nepotisme. Tapi ini beneran penilaian yang objektif kog. Kamarnya bagus dan interiornya minimalis. Lalu ada Swiss Cafe yang nyediain makanan western, Indonesia, dan Chinese. Kalo mau buffet juga bisa. Cakenya juga unyu-unyu dan enak terutama cheese cakenya. Selain itu ada BnB lounge, kolam renang, gym, dan soon akan dibuka restoran di rooftop. Wihiii... Kalo boleh jujur sih ini kayaknya tempat ter fancy yang ada di Jambi. Pokoknya it's not just a hotel, it's your business address. Cieehhhh....

Fish and Chips

Salad Chef

Norwegian Salmon

Sirloin Steak


Cheese Cake

Tiramisu Cake

Me and Boyfie at Swiss-Belhotel Lobby

Me and Famiy at Swiss Cafe


Lumayan banyak kan makanan yang bisa dicoba di Jambi? Silahkan berkunjung ke Jambi loh.. :)